Monday, March 5, 2012

Dampak Teknologi dan Kiat Menghadapinya


Kelas Rabu 22 Februari 2012, Sharing tentang Anak, Wanita dan Keluarga

Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar sahabat semua? semoga keberkahan selalu tercurah pada sahabat dan keluarga semua dan menjadikan hari ini lebih baik dari kemaren dan esok lebih baik dari hari ini, Insya Allah.
Alhamdulillah tak terasa waktu begitu cepat berlalu dan kelas Rabu pun kembali datang :) semoga sahabat semua tidak ada yang bosan yah dan harapan saya kita semua bisa mendapatkan manfaat dari sharing di kelas kita ini.
Para bunda, adakah diantara bunda yang bingung menghadapi para buah hati yang sudah ketagihan di depan televisi dan asyik main game berjam-jam?
Alhamdulillah sharing kali ini sahabat kita semua adikku tercinta yang berada di Newcastle adinda Dr Fitria Heny akan membagi pengalamannya tentang bagaimana cara dan kiat menghadapi teknologi ini dan apa dampak dari teknologi yang semakin canggih terhadap buah hati kita.
Di sini saya copy paste tulisan beliau di blognya, insya Allah akan sangat bermanfaat untuk kita semua para pendidik generasi bangsa dan agama.
Silahkan di simak terlebih dahulu , insya Allah uni Fitria akan hadir pada pukul 10 pagi waktu UK , dan bila ada yang mau share , pertanyaan dan saran silahkan seperti biasa tulis di bagian komentar ya sahabatku tersayang, insya Allah bila uni sudah online beliau akan memberikan jawabannya dan pengalamannya mengikuti seminar dengan ibu Elly Risman.

DAMPAK TEKNOLOGI DAN KIAT MENGHADAPINYA

Terusik serta tergelitik dengan sharing dari bunda Dizza tentang anaknya yang suka bermain game internetan,apakah bahaya atau tidak?Fenomena ini, sudah menjadi salah satu topik menarik dalam berbagai diskusi maupun seminar. Fenomena dan dampak dari teknologi di era digitalisasi saat ini.

Teknologi membawa banyak kemudahan dan percepatan dalam hidup, tapi kita juga tidak bisa memungkiri bahwa teknologi juga membawa dampak negatif dalam kehidupan .

Beberapa waktu yang lalu (bln Desember) saya kebetulan  mengikuti seminar online yang di adakan oleh kharisma di jerman dengan nara sumber ibu Elly Risman,Psi. Seorang yang intens dengan masalah keluarga dan anak terutama di Indonesia.Seminar kali ini bertemakan tentang teknologi beserta dampak-dampaknya.

Berikut ini ,catatan kecil saya selama mendengarkan penuturan dari ibu Elly.Ada beberapa hal penting yang perlu kita antisipasi dalam penggunaaan teknologi terutama teknologi yang akan kita berikan kepada anak-anak, yaituSelalu hadirkan pertanyaan :

1. Apakah teknologi ini (tv, game,hp , dvd etc) cocok dengan anak saya?
 * Berdasarkan kriterian usia, jenis kelamin, watak, karakter dll.Contoh : Anak  usai 9thn minta dibelikan ipad , apakah ini sudah pantas? bermanfaatkah? alasannya dll.

2. Apakah sudah dijelaskan ke anak cara pemakaiannya? manfaat dan kerugiannya?

3. Apakah sudah ditanamkan ke anak, bahwa apapun yang dikerjakan ada Allah yang selalu mengawasi dan mengetahui apa yang dilakukannya?
TANDA-TANDA ANAK KECANDUAN GAME/TV

* Anak menonton atau main game lebih dari 15 jam/minggu

* Anak suka berkata kasar

* Menghindari kontak mata

*Menyembunyikan segala sesuatu, seperti kunci pintu, menggunakan pin di semua miliknya

* lebih suka bermain dengan teman-temannya, terutama di dunia maya (fb. twitt dll)

CARA MENGATASI :

1. Jangan Panik / MarahAyoo...siapa yang pertama kali memberikan fasilitas itu pada anak?^_*siapa yang beli tv, beli komputer, hp canggih, lapi, game dkk?

INGAT! makin kita marah, makin kecanduan anak-anak.

2. Cari tau sejauh mana keterpaparan mereka .Apa yang mereka tonton? game apa yang dimainkan

3. Jalin komunikasi dengan anak.* minta ampun pada Allah Swt* minta maaf pada anak

4. bermusyawarah dengan anak* Pikirkan perasaan anak. Pola pikir anak adalah (E-A-P)Emosi / senang-senang ----- Aksi / lakukan --------Pikir (terakhir)

* Mengajukan Pertanyaan, Kenapa? contoh,,kenapa hari ini pakai baju warna A? kenapa mau main B? dll....Mengajarkan dan melatih anak untuk berpikir. 

* Bersikap sebagai teman.Anak laki-laki sebaiknya di dekati oleh bapaknya dan anak perempuan oleh ibunya. Hal ini di karenakan perbedaan cara berpikir anak laki-laki dan perempuan sehingga anak laki-laki perlu diajarkan oleh bapaknya.Sebagaimana kita ketahui, kalau perempuan itu kan cerewet, dan itu sulit diterima oleh anak lelaki,makanya butuh bantuan bapaknya untuk menghadapi anak lelaki ini.

Saya ingat dan jadi tersenyum sendiri ketika bu Elly menjelaskan tentang hal ini. Syauqi anak kedua saya sering bertanya apa hal pertama yang harus dia kerjakan pada saya, padahal saya sudah menjelaskan panjang lebar dan berurutan kepadanya apa-apa saja yang harus dia kerjakan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan cara berpikir antara lelaki dan perempuan ini.

4, Jelaskan efek samping pada anak.Kecanduan game atau menonton pornografi bisa menyebabkan kerusakan otak yang disebut erototoksin.Kerusakan otak yang diakibatkan oleh pornografi atau akibat sesuatu yang dillihat oleh mata (Judith A.Reisman)

5. Cari kesepakatan untuk merubah kebiasaan iniLakukan dengan Simulasi (bersikap seperti bapak/ibu adalah temannya).

6. Buat aturan tentang  konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan.

7. Ajari anak bagaimana deal dengan kebiasaan buruk tersebut/kecanduanMisalkan dengan mengajarkan, setiap kali ada keinginan untuk nonton main game maka katakan pada diri sendiri, bahwa ini tidak baik, merugikan, dll (sugesti diri sendiri)

8. Disiplin.Tidak perlu kalimat panjang – panjang...dua kalimat cukup. dan Action.
Jangan lupa DISIPLIN ya....

KAPAN ORANG TUA MESTI MEWASPADAI DAMPAK NEGATIF TEKNOLOGI INI?Prinsipnya adalah Terus berhati-hati 
1. Harus lebih serius ketika Anak-anak Menjelang pubertas:Hasil penelitian Ibu Elly di Indonesia.Anak Perempuan : Menstruasi 52% Usia 9thnAnak Lelaki :Mimpi basah 48%Usia 10-11Jadi": Usia 8-9 thn hampir menjadi orang dws.( haaa??? Nada udah 9 tahun nih mei ini??

Apalagi jika ada kesalahan pengasuhan selama ini, seperti salah kata, salah sikap dll.

2. Penggunaan teknologi lebih 15 jam per minggu

3. Anak yang tidak terpantau seperti pintu sudah main kunci, semua pakai pin, hp di umpetin dalam laci
4. Jangan pernah menutup mata akan kelakuan anak dan perkembangan teknologi saat ini.

5. Pendidikan agama dalam keluarga harus terus menerus dilakukan sebagai benteng pertahanan mereka.

Itu dulu teman-teman,,,,,Sharing kali ini. Dipersilahkan nih Perempuan-perempuan perkasa disini untuk urun rembuk , menambahkan, mengoreksi dan berbagi ilmu serta pengalaman dalam berhubungan dengan anak-anak di sekeliling kita. Bukan hanya anak-anak kita, tapi seluruh anak yang berada di sekitar kita. Jika kita bisa ikut andil dan peduli merubah mereka ke arah yang lebih baik, why not?^_^

PJ: Afifah Azzahra Abdurrahman 







Kelas Bedah Non Fiksi (20 Februari 2012)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum wr.wb.
Apa kabar teman-teman tercinta di segala penjuru dunia?
Semoga semua dalam lindungan-Nya. Aamiin.
Materi hari ini, saya ambil dari hasil diskusi online 1 jurnalistik di group IIDN pusat. Mungkin ada yang sudah ikut, bagi yang belum ikutan diskusi tersebut, inilah resumenya. Semoga bermanfaat.


Resume Diskusi Online 1 Jurnalistik
14 Desember 2011.
Di-Update 15 Februari 2012
Oleh : Rika Tjahyani S.


Topik : Menulis di Media, Gimana, Ya?
           
Tidak semua tulisan yang dimuat di media termasuk karya jurnalistik. Jadi, yang bagaimanakah?
            Jurnalistik. Apa, sih, itu ? Kita tak usah pusing-pusing berteori, berdefinisi. Yuk, ambil mudahnya saja. Koran, majalah, tabloid, radio, televisi sampai banyak website berita di internet adalah sekian contoh dari media jurnalistik.
            Tapi, tak semua tulisan yang dimuat di media cetak, website, tayangan yang tampil di televisi tergolong sebagai karya jurnalistik. Tulisan-tulisan fiksi seperti cerita pendek, cerita bersambung yang dimuat di koran, majalah atau tabloid (ada nggak ya, di tabloid?) tidak masuk dalam golongan karya jurnalistik. Begitu pun dengan tayangan serial teve atau sinetron dan film yang tampil di layar kaca juga cerita dongeng wayang golek di radio.

Syarat 5 W + 1 H
            Karya jurnalistik umumnya berupa informasi nyata yang terjadi di masyarakat. Bisa di dalam negeri juga di luar negeri. Informasi tersebut disampaikan ke masyarakat luas demi kepentingan orang banyak. Kata lain, info tersebut berguna atau bermanfaat, gitu lhoo…! (Karena itulah muncul perdebatan bahwa gosip-gosip kehidupan pribadi selebriti di televisi dianggap bukan karya jurnalistik).
            Berita-berita yang  dimuat di koran atau portal berita kebanyakan berupa hard news. Maksudnya, berita yang terjadi di dunia ini diinformasikan secara singkat, padat, sesuai kejadian. Tidak direka-reka apalagi dikhayal-khayal. Termasuk ditambah-tambahkan opini. Karena itulah dalam jurnalistik rumus 5W (What, Who, When, Where, Why) + 1 H (How)) adalah syarat mutlak yang harus dipegang.

Hard news, apa itu?
            Hard news umumnya disampaikan kepada masyarakat luas lewat media secara cepat. Bisa dalam hitungan detik atau menit (biasanya media yang paling memungkinkan untuk mengirimkan informasi dengan kecepatan seperti ini adalah  portal berita yang bisa diakses lewat internet, televisi, radio). Untuk Koran, majalah biasanya lebih lambat. Hitungannya adalah jam untuk koran atau hari bahkan minggu untuk majalah. Kenapa begitu? Karena Koran dan majalah mengalami proses percetakan yang memerlukan waktu lebih panjang. 
            Contoh hard news yang belakangan paling hot adalah ditetapkannya Miranda Gultom dan Angelina Sondakh sebagai tersangka korupsi oleh KPK. Atau, kecelakaan dahsyat yang menewaskan 9 orang di daerah Tugu Tani, Jakarta. Dan yang terbaru, berita kecelakaan beruntun oleh bus di Cisarua, Puncak, Bogor, Jawa Barat yang menelan korban 14 orang.
            Coba Anda perhatikan, dalam berita yang disampaikan tersebut, pasti ada unsur 5 W + 1 H, bukan? Kalau kurang satu saja, bukan tak mungkin bibir Anda spontan  berkomentar, ”Berita, kok, gak jelas gini, sih!” Buntutnya, Anda mungkin malas mengakses berita dari media tersebut. Untuk media, ini adalah kerugian. Selain kehilangan kepercayaan masyarakat, juga ditinggalkan pelanggan setia yang bisa berimbas pada menurunnya pendapatan.
            Unsur 5W + 1 H memang menjadi salah satu tolak ukur masyarakat untuk memercayai media penyampai informasi yang dipilih. Karena itu, media berusaha untuk tidak menyampaikan berita bohong, info karangan dan sejenisnya. Para jurnalis atau pekerja media pun dituntut untuk menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran.

Yang tergolong karya jurnalistik
            Selain hard news atau berita, karya lain di media yang tergolong sebagai karya jurnalistik antara lain tulisan features (kalau di media cetak) atau tayangan features yang kadang-kadang ada yang menyebut sebagai ‘teve magazine’. Contohnya, tulisan atau tayangan tentang profil seseorang (bisa tokoh yang dikenal masyarakat atau bukan). Biasanya sang jurnalis mewawancarai langsung nara sumber. Tulisan atau tayangan disajikan berdasarkan hasil wawancara. Ada yang diramu dengan hasil pengamatan penulis, ada pula yang berupa tanya jawab.
            Contoh lain tulisan features adalah tulisan tentang perjalanan (wisata jalan-jalan hingga kuliner); artikel kesehatan. Di majalah femina tempat kerja saya dulu, artikel yang termasuk dalam features antara lain: Liputan Khas (liputan utama); Kisah Sukses, Kisah Sejati, Kisah Cinta, Profil (biasanya bukan orang terkenal), Selebriti, Omong-omong, Oleh-oleh (wisata), Karier, Diet dan Nutrisi, Anda dan dia (psikologi atau relationship); Rupa-rupa, Jujur Saja; Gado-gado (nah, yang ini sepertinya tulisan favorit karena termasuk yang paling sering dibaca termasuk oleh beberapa teman di sini.)    
            Contoh tayangan features di televisi antara lain :
-          Kick Andy di Metro TV (bentuknya wawancara langsung dengan beberapa narasumber yang berhubungan dengan tema yang kali itu tayang); Jelajah hingga Petualangan Si Bolang dan Laptop Si Unyil.
            Bagaimana dengan Cerpen, Cerber di Koran atau majalah, apakah bisa dianggap sebagai karya jurnalistik? Jawabannya tidak. Cerpen dan cerber tidak memegang rumus 5W + 1 H tadi. Tulisan itu pun umumnya dibuat berdasarkan imajinasi, rekaan meski ada juga yang terinspirasi dari kisah nyata. Cerpen dan cerber lebih tepat dikategorikan sebagai karya sastra. 
Oke, ini dulu resume pertama diskusi kita tentang Jurnalistik yang berlangsung 14 Desember 2011 (wahh, lama amat ya…. Gak apa-apa ya… Semoga maklum dengan kendala waktu yang saya hadapi. Yang pasti, info ini dijamin gak ‘basi’ J )

TANYA JAWAB.
Berikut adalah jawaban pertanyaan yang sempat masuk ke saya :
  1. Anna Permatasari wow, keren..Mbak Rika...mau nanya: sebenarnya apa perbedaan antara artikel dgn features? oya, sy suka baca Intisari, Tarbawi dan Trubus... December 14, 2011 at 9:26am.
JAWABAN:
      Dear Mbak Anna, semoga resume di atas bisa menjawab ya… Artikel adalah tulisan yang dimuat di media cetak. Features sendiri adalah jenis karya tulisan yang ditampilkan di media cetak.
  1. Arin- Murtiyarini Iya, Mba Ety Abdul, latar belakang penulis gak nyambung dg yg ditulis gmn ya ? Kadang interest kita berubah pasca kuliah..dsb.
            JAWABAN: 
            Mbak Arin, tidak sedikit jurnalis membuat tulisan yang bertolak belakang dengan latar belakang pendidikan mereka. Saya termasuk salah satu contohnya, hehe... Latar belakang pendidikan saya teknologi pangan. Ketika menjadi jurnalis, saya pernah harus menulis tentang pil KB, HIV-AIDS, gangguan stroke, kekerasan dalam rumah tangga, tata kota, gadget hp terbaru sampai poligami dan masih banyak lagi.
            Sebagai jurnalis, kita harus mau dan mampu menambah wawasan, ilmu sendiri secara kilat. Karena jurnalis selalu dikejar-kejar setan, eh maksudnya deadline, ‘bercumbu’ dengan tenggat. Femina adalah majalah mingguan (satu-satunya majalah wanita mingguan di Indonesia). Waktu itu (bahkan sampai sekarang kalau dapat order tulisan), ya harus ngebut belajar sendiri hal baru sampai ngerti, paham. Kalau tidak paham, bagaimana kita bisa menuliskan, menjelaskannya untuk orang lain?
            Semua itu bisa dilakukan asalkan mau belajar. Caranya, ketika wawancara dengan sang ahli kita sudah menyiapkan bahan pertanyaan. Kalau gak ngerti, jangan malu, gengsi, bertanya ulang. Misalnya, ״Gimana, tadi penjelasannya, Dok ?″ Yang lebih penting lagi, sebelum berangkat wawancara, kita harus punya bekal dulu tentang topik yang akan dibahas. Cari literaturnya di internet, baca di koran dan sejenisnya.
  1. Sri Widiyastuti mungkin bisa ditambahkan berapa karakter tulisan untuk mengirim ke media? December 14, 2011 at 11:23am ·
            JAWABAN:
            Mbak Sri, kalau maksud pertanyaannya berapa panjang tulisan, kita bisa perhatikan kebiasaan media tersebut. Misalnya, berapa halamankah? Untuk majalah femina, sekarang biasanya artikel features kecuali Liputan Khas, ditampilkan secara singkat padat. Umumnya dua halaman majalah. Kalau diketik di komputer (MS word) menggunakan huruf ARIAL, ukuran huruf 12, biasanya maksimal sekitar 3 – 4 halaman, spasi tunggal.
            Untuk artikel Gado-gado : panjang tulisan maksimal 2 halaman (arial 12, spasi tunggal. Setahu saya ini pakem yang masih dipakai femina sampai sekarang).
            Kalau pertanyaan karakter berupa bentuk, gaya tulisan, nanti akan dibahas di BAGAIMANA MENEMBUS MEDIA.Boleh ya..?? Jadi disimpen dulu pertanyaannya ^_^ 
  1. Arin- Murtiyarini Mba Rika, mgk dg alasan trust itu juga ya majalah XX mengubah tulisan kiriman pembaca jd bentuk wawancara dg si pengirim tsbt tp penulis yg tampil si redaktur. Begitukah ? maksudku tulisan dr pembaca tampil dg nama redaktur, atas hasil wwcr dg pembaca tsbt..pdhl tulisannya sih gak jauh dr yg dikirim tadi.. Ini ada bbrp kasus mba Rika, dimuat, editan tidak banyak, tapi nama yg tampil adalah redaktur. Penulis seolah-olah sbg narasumber. December 14, 2011 at 11:25am via ·
JAWABAN:
            dear Arin, Editor di majalah biasanya memang akan mengedit tulisan dari luar. Namun biasanya tulisan yang diedit diusahakan tidak merombak banyak. Kalau banyak yang dirombak, pengalaman saya, biasanya, sih, tulisan itu sudah pasti gak bakal saya loloskan. Kalau memang topiknya menarik, tapi tulisan perlu tambahan, penulis bisa dihubungi oleh sang editor untuk merevisi. Dengan catatan, kalau editornya rajin, gak lagi sibuk, gak dikejar deadline. Kebanyakan sih, tulisan yang dikirim itu akhrnya jadi tidak lolos terbit. Alias, maaf, masuk tempat sampah.
            Kalau tulisan itu akan dirombak, atau di rewrite oleh editor, etikanya sang editor ikut mencamtumkan nama penulis naskah kiriman tersebut di sebelah namanya. Jadi, menjadi penulis bersama. Naskah kiriman dianggap bahan tulisan, dan penulisnya ikut diakui sebagai penulis dengan ikut dicantumkan namanya dan selanjutnya diberi honor ^_^
            Kalau hanya editing susunan bahasa, mengubah atau memperbaiki judul, catcher, sub judul, atau sedikit redaksional (misalnya kurang dari 10 kalimat), pantasnya, sih, yang dicantumkan adalah nama penulis, bukan nama editor. Sebagai editor, malu, dong, ngaku-ngaku tulisan orang lain sebagai tulisan diri sendiri. Itu etikanya. February 8 at 11:40am ·

Sekian resume pertama ini. Semoga bermanfaat. Salam, rika :)

Oiya, ini ada kiriman tulisan keren dari Ibu cantik, Bunda Chemy. Kita bedah bersama ya. Silakan komen jika ada masukan dan saran terhadap tulisan berikut. InsyaAllah nanti malam saya simpulkan hasil bedah kita hari ini. Terima kasih ya ^_^ 
Feature Perjalanan


KEMPING PART 2 AT DIBBA, MUSANDAM PENINSULLA OMAN
Ajakan berkemah datang lagi!. Masih hangat terasa sensasi seru nya berkemah di emphty quarter yang kami lakukan bulan lalu. Kini Indo emirates-sebuah wadah untuk komunitas WNI di Ruwais Abudhabi- mengundang para anggotanya untuk berkemah ke lokasi yang lebih jauh lagi, melintasi Negara UAE. Ke Oman lah kami akan berangkat, singgah dan berkemah. Berbekal pengalaman sewaktu di Liwa kali ini persiapan yang kami lakukan lebih matang, demi kenyamanan saat berkemah nanti. Tenda yang lebih besar supaya tidur tak berdesakan, selimut yang lebih banyak, bantal-bantal dan makanan-makanan kecil.


D’ Campingers
Awalnya peserta yang mendaftarkan diri untuk kegiatan berkemah kali ini sama seperti berkemah di Liwa bulan lalu yaitu sekitar 14 keluarga. Namun ketika waktu keberangkatan tiba peserta yang fix berangkat tinggal tersisa 7 keluarga. Sebelum keberangkatan kami mengadakan pertemuan-pertemuan untuk mematangkan persiapan. Cuaca yang akhir-akhir ini sangat dingin dan seringnya badai debu membuat banyak penduduk Ruwais yang terkena sakit flu dan batuk bahkan chicken pox dan informasi dari berita-berita di media massa yang menyebutkan bahwa Fujairah UAE lokasi yang terdekat dengan Dibba Oman sangat dingin bahkan di beberapa puncak bukit batu turun hujan salju, akhirnya dengan alasan-alasan tersebut membuat beberapa keluarga memutuskan untuk tidak berangkat.

Akhirnya inilah kami, D’Campingers, para penyuka kemping, 7 keluarga dan satu orang bachelor yang berangkat untuk berkemah di Musandam Dibba, Oman. Seperti bulan lalu, waktu keberangkatan terbagi dua term. Hari pertama berangkat kamis 9 februari pukul 5 sore, di kloter pertama ini 4 keluarga yang berangkat yaitu keluarga Herry Sadewo, Partondo Catur Nugroho dan Agus Haryanto, sedangkan keluarga Mardian Purwanto (presiden Indo emirate) sudah berangkat di pagi hari karena ada kepentingan pribadi mampir terlebih dahulu di Abudhabi. Kloter kedua berangkat jum’at 10 Februari pukul 9 pagi dengan 3 keluarga yaitu, kami (lukman Setiawan), Amrizon, Darmadi Miswan dan satu orang bachelor yaitu Zamrony.

Kloter yang berangkat di hari pertama terlebih dahulu bermalam di Sharjah, mereka datang di hotel sekitar pukul 22.30. Hotel yang dipilih lumayan dekat dengan lokasi perkemahan Dibba Oman yaitu “hanya” berjarak sekitar kurang lebih 55km. Sedangkan yang berangkat di hari kedua langsung menuju ke tempat lokasi perkemahan Dibba, Oman.

Dibba, Kota Dua Negara dan Dua wilayah Emirate
Kami berangkat di kloter kedua yaitu di hari jum’at pukul 9 pagi, dari Ruwais langsung menuju Oman dengan tiga mobil konvoi beriringan. Jarak antara Ruwais dan Dibba Oman kurang lebih sekitar 400km. Perjalanan relative lancer, kami singgah di beberapa petrol (pom bensin). Dan berhenti di daerah Al Dhaid untuk melaksanakan sholat jum’at. Hal yang mencolok dari petrol-petrol di kota-kota Dubai, Abudhabi dan Sharjah yang sering kami kunjungi dengan daerah-daerah kota kecil yang kami singgahi sepanjang perjalanan ini adalah kebersihan toilet. Di kota-kota besar Dubai, Abudhabi dan sharjah, Toilet-toilet yang terdapat di petrol sangat terjaga kebersihannya sedangkan di kota-kota kecil yang kami singgahi toilet kurang bersih dan tak terawat, di tambah lagi tak ada kloset duduk hanya ada kloset jongkok, mengingatkan saya pada toilet-toilet umum di Indonesia.

Dibba adalah kota yang unik dengan kepemilikan dua Negara dan 3 ruled (pemerintahan) yang terdi dari; Dibba Al-Fujairah yang berada dibawah pemerintahan Fujairah UAE, Dibba Al-Hisn yang berada dibawah pemerintahan Sharjah UAE serta Dibba Al-Bayya yang berada dibawah pemerintahan Musandam Oman. Menurut laman guardian.co.uk, Oman termasuk ke dalam daftar 12 negara yang wajib dikunjungi tahun 2012, dan daerah yang di rekomendasikan selain muscat adalah Musandam Peninsula, Dibba adalah salah satu wilayah Musandam Peninsula. Oman pantas di rekomendasikan karena Negara ini masih dibalut oleh kearifan lokal, kental dengan nuansa tradisi dan budaya setempat. Sangat berbeda dengan Negara tetangganya yaitu UAE yang serba artificial.

Perjalanan kali ini sangat berbeda dengan perjalanan berkemah di Liwa, apabila di Liwa di sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan gurun pasir yang indah dan misterius maka di sepanjang perjalanan menuju Dibba kami disuguhi oleh hamparan Rock mountains (gunung-gunung batu). Gunung-gunung batu yang terjal di kanan-kiri jalan berdiri kokoh dan menjulang tinggi. Semakin ke dalam kami seakan di kepung oleh Rock hills (bukit-bukit batu), jarak antara badan jalan dan Rock hills sangat dekat hanya sekitar 5 meter saja.

Kami tiba di perbatasan UAE dan Oman, check point pemeriksaan imigrasi Alhamdulillah kami lewati dengan lancar. Namun tiba-tiba rombongan kami tertahan, Zam rony yang ikut di kendaraan pak Darmadi di tegur oleh petugas imigrasi karena kedapatan mengambil foto, kami lupa memberi tahu nya bahwa perbatasan antar Negara tidak boleh ambil foto. Maka tanpa ampun lagi petugas imigrasi merampas kamera dan menghapus foto lokasi perbatasan.

Kami tiba di kota Dibba pukul tiga sore, sebelum bergabung dengan teman-teman dari kloter pertama yang telah tiba terlebih dahulu di lokasi perkemahan, kami singgah terlebih dahulu di fish market, membeli ikan untuk makan malam kami nanti. Dibba Al-Bayya memang kota maritim, kota nelayan, ikan-ikan segar yang baru ditangkap terjaja di bibir pantai, perahu-perahu nelayan tertambat, para bangla (Bangladesh) yang bekerja untuk para tuan pemilik kapal lalu lalang sibuk dengan kegiatannya.

Hmmmm saya sejenak menghirup udara laut yang fresh, ya udara laut Dibba masih fresh belum terkontaminasi polusi, tak ada cerobong-cerobong asap pabrik-pabrik kimia disini. Maka biota laut pun masih banyak bermacam dijumpai, bahkan burung-burung laut dengan berbagai jenis masih bisa di jumpai. Burung-burung itu terbang berbaris rapi dengan formasinya, kadang mendarat di bibir pantai seakan melihat hiruk pikuk keramaian orang-orang yang sedang bertransaksi membeli ikan.

Kemudian ingatan saya melompat jauh beribu kilometer ke desa tempat asal kelahiran, sebuah desa nelayan yang kini berubah menjadi kota, Pantai Anyer Serang Banten. Apa kabar Pantai Anyer? Apa kabar para Nelayan Anyer? Ahhhhh aku tersenyum ironi.

Full Moon at Dibba
Kami datang di lokasi perkemahan pukul lima sore, tenda kami sudah terpasang, teman dari kloter pertama keberangkatan yang berbaik hati memasangkan tenda untuk kami. Kami bersiap untuk makan malam, ibu-ibu memasak dan mengolah ikan yang tadi kami beli. Sebelum waktu makan malam datang dan sambil menunggu bahan makanan diolah kami menyantap bakso yang sudah kami persiapkan dari rumah. Bapak-bapak menyiapkan kayu bakar untuk keperluan barbeque dan api unggun. Anak-anak? Mereka tanpa dikomando langsung bermain pasir dan mendekat ke bibir pantai.

Lokasi tenda kami dekat dengan bibir pantai, hanya berjarak 20 meter saja, kami sengaja menghindari bukit batu karena khawatir bila tiba-tiba kami tertimpa batu yang jatuh dari atas bukit. Kami punya “tetangga” kemah, di sebelah kanan adalah sekelompok bule, di sebelah kiri adalah sekelompok philipina atau Thailand, entahlah. Pantai ramai kala itu, ada yang bermain paralayang, memancing, berenang dan lain-lain.

Cuaca memang mendukung saat itu, relative hangat sekitar 25 derajat ketika sore hari dan 20 derajat di malam hari. Apa yang kami khawatirkan tentang dingginnya cuaca sama sekali tak terbukti, Alhamdulillah.

Ketika malam datang kami bersiap di tengah api unggun untuk menyantap makan malam sambil menunggu datangnya bulan. Dan bulan pun perlahan, bagai muncul dari tengah lautan, bulat sempurna perlahan naik, kemudian membentuk seberkas sinar vertical lurus berwarna keemasan, seperti sebuah jembatan di permukaan air laut, semua mengucap asma Allah demi melihat pemandangan yang menakjubkan ini,

Subhanallah, tak terkira rasa syukur kami berkesempatan melihat salah satu ayat Tuhan di Alam semesta ini.
Pukul 11 malam rasa kantuk datang kami pun satu persatu masuk ke dalam tenda masing-masing, menarik selimut dan terlelap.

Pasar Jum’at
Shubuh menjelang, para penghuni tenda satu persatu keluar, bagai ulat yang keluar dari kepompong. Semua bergegas ke toilet yang berjarak sangat dekat dengan tenda. Setelah sholat kami bersiap untuk sarapan. Anak-anak pun terbangun di pagi hari, mereka langsung berlari kepantai, tak ada gurat lelah di wajah mereka, hanya keceriaan yang terpancar.

Setelah sarapan selesai kami bersiap-siap packing kembali untuk pulang, besok kami harus kembali beraktivitas, bapak-bapak bekerja dan anak-anak sekolah.
Dalam perjalanan pulang kami mampir ke pasar jum’at, sebuah pasar di Fujairah UAE, pasar ini mengingatkan saya pada deretan kios-kios di puncak pass Bogor Indonesia. Kios-kios pasar jum’at menjajakan aneka buah-buahan yang fresh, mainan anak-anak, handycraft, dan karpet-karpet sutra iran yang indah.

Apa yang Kami Cari?
Seorang teman bertanya kepada saya, “untuk apa bersusah-susah kemping?, seneng banget sih kemping?, well saya juga bingung, terus terang tak bisa mendeskripsikan kesenangan saya secara akurat. Kecuali rasa rindu akan kebersamaan yang terjalin hangat, menyaksikan indahnya alam yang murni, menyaksikan begitu banyak ayat-ayat Tuhan di alam semesta ini. Maka rasa syukur tak terhingga akan senantiasa tertanam didalam hati.

Berkemah juga adalah salah satu hal yang bisa menumbuhkan rasa emphaty dan mengasah rasa peri kemanusiaan yang seringkali terkikis, tergerus oleh dunia artificial yang setiap hari kita hadapi. Bagi saya khususnya adalah menanamkan rasa awareness untuk anak-anak saya yang setiap hari disuguhi oleh kenyamanan dalam hidupnya. Setidaknya kami memberikan pandangan bahwa ada dunia lain selain di rumah yang serba ada dan di beranda rumahmu yang serba nyaman, ya saya ajak anak-anak untuk keluar dari zona nyaman mereka.

“Bunda, Ayah thankyou for camping, kalo libur sekolah kita pergi kemping lagi ya?!” ujar anakku, “inshaallah sayang, inshaallah” jawabku.
Februari, 10-11 2012

Catatan : Maaf jika spasi terlihat tidak teratur, sudah dicoba edit, tapi si FB nggak mau berubah euy :)
Kesimpulan hasil diskusi :
1. Tulisan Bunda Chemy termasuk jenis feature perjalanan.
2. Tulisan sudah enak dibaca, hanya ada beberapa penulisan yang harus diperbaiki sesuai  EYD. Misalnya : untuk istilah asing, gunakan huruf italic atau cetak miring
3. Jika ingin dikirim ke media, perhatikan dulu kekhasan dari media yang dituju.
    Misalnya : Jika rubrik travelling,  jalan-jalan dan sejenisnya, biasanya harus dilengkapi foto.
4. Jempol buat Bunda Chemy dan semua yang hadir di kelas ini.
Mohon maaf jika banyak kekurangan, kita tutup dengan "Alhamdulillah".
Sampai jumpa Senin, pekan depan. InsyaAllah.
Terima kasih,
Ida Fauziah

Kelas Bedah Fiksi (Jumat, 17 Februari 2011)


Assalamu'alaikum ibu-ibu dan mbak-mbak cantik nan shalihah. Apa kabar? Semoga semua dalam keadaan terbaik yaa...
Sebelum kelas kita mulai, kita baca Basmallah dulu untuk yang beragama Islam yaa... yang beragama lain, silakan berdoa menurut keyakinan masing-masing.
Nah, hari ini, kita masih akan membahas cerpen. Di bawah ini ada cerpen kiriman bu Sri Widiyastuti, tetangga saya dari Johor. Cerpen keren bernuansa Palestine. Selain bedah cerpen, kita juga akan mencoba mendalami ilmu tentang setting alias penglataran. Wah, apa itu?
Berikut ada sedikit materi tentang setting, silakan dibaca, :-)
Menurut Wikipedia, latar(setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas di mana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
Setting merupakan unsur yang penting dalam sebuah cerpen. Setting yang kuat akan membawa para pembacanya larut dalam cerita. Pembaca akan mudah berimajinasi hingga merasa seolah-olah berada di dalam cerita tersebut.
Untuk mendapatkan sebuah setting yang oke, sebagai seorang penulis, kita harus mendeskripsikan atau menarasikan setiap detail dalam cerpen kita sehingga pembaca mudah berimajinasi.
Misalnya, tokoh kita adalah seorang istri pelajar yang baru menginjakkan kakinya ke kampus Universiti Teknologi Malaysia (ini mah saya lima tahun lalu, hihihi).
============
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Taksi yang kami tumpangi memasuki kawasan yang sangat bersih. Sebuah tulisan besar terpampang di atas gapura. Universiti Teknologi Malaysia, Skudai Johor Bahru. Ah, tanpa terasa haru menyeruak dalam dada. Akhirnya sampai juga aku di sini.
Kuedarkan pandanganku ke luar jendela. Pepohonan berbaris rapi di sepanjang jalanan kampus. Melihat besarnya batang, usia pohon-pohon itu pasti sudah mencapai puluhan tahun. Memang, dari informasi sang sopir taksi, kampus ini awalnya adalah sebuah hutan rimba. Meski demikian, rumput di bawahnya sangat rapi. Tak satu pun sampah kulihat di atasnya.
Lima menit berselang, tampak olehku sebuah danau buatan. Airnya tenang tanpa riak. Sesekali datang sekawanan burung bangau putih, menambah manis suasana. Aih, baru beberapa menit saja, aku sudah merasa kerasan tinggal di sini.
"Ayah, aku mau lama-lama tinggal di sini!" bisikku pada si Ayah.
================
Nahhh, itu contoh kecil tentang setting. Saya mencoba mengajak pembaca memasuki kampus UTM. Kira-kira, mudah diimajinasikan atau sulit ya? hehehe... kalau mudah Alhamdulillah, kalau sulit, maafkeun yaa...
Baiklah, sekarang, kita baca cerpen keren kiriman bu Tuti berikut yuk! Setelah itu, ditunggu komennya yaaa...

--------------------------------------------------------------------------
HAYYA
Oleh : Sri Widiyastuti
Belum seminggu aku tinggal di kota
kecil ini, Israel telah melancarkan agresinya hingga ke sini. Huh! Padahal,
Boss-ku bilang, Khan Yunis adalah kota kecil yang aman. Nyatanya? Tiga hari
yang lalu mereka melancarkan serangan tiba-tiba. Sayup-sayup dari jauh masih
terdengar dentuman dan rentetan senjata di mana-mana.

Merinding rasanya, jika
tiba-tiba bom itu mendarat di hotel tempatku menginap.
MasyaAllah, tiba-tiba aku dicekam perasaan takut mati. Aku menyesal mau
mengikuti ekspedisi ini. Tiba-tiba bayangan keluargaku menari-nari dalam
benakku.

Ya Allah, apakah ini yang
dinamakan al wahn itu? Dia begitu menggodaku saat ini.Ya Allah, luruskan
niatku, luruskan niatku….
“Hei! ngetik jurnal atau bengong, Nduk?”
Mbak Adis, teman sekamarku, tiba-tiba sudah ada disebelahku.
 “Astaghfirullah al adzim….! Mbak Adis… ya Allah Mbak, bisa jantungan
aku.” kutinggalkan laptopku sambil siap mencubit pinggangnya.
 “Eit, engga kena…hehhehe…” katanya
sambil berlari
menuju tempat tidur. “Eh, engga laper apa kamu? Dari tadi nulis aja engga
beres-beres. Aku dah laper nih. Turun yuk!” Mbak Adis berbicara nyerocos seperti mercon mengajakku
makan.
  
Kami memang tidak makan di hotel,
selain untuk mengirit pengeluaran, kami lebih suka mencari kuliner di sekitar
hotel. Agar
lebih dekat dengan warga Palestina. Itulah target wartawan.

Kupegangi perutku, benar, perutku
juga sudah lapar. Tiba-tiba perut itu berbunyi minta diisi.

“Oke Mbak, aku siap-siap dulu yah….”
Kusambar
handuk dan segera menghambur ke dalam kamar mandi.

***
Alhamdulillah, hari ini memang lucky bisa makan dengan menu istimewa
khas Palestina, mahshi dengan sup lentil! Wuah! Setahuku, mahshi ini dihidangkan pada saat bulan
Ramadhan saja.
Tetapi  pemilik kedai tempat kami makan
tadi, menjamu kami dengan jamuan yang istimewa sekali.

Mahshi
bahan dasarnya adalah wortel besar berwarna coklat kemerahan.Wortel ini mereka
kupas dan kemudian dibuat rongga di tengahnya.

“Tidak mudah kami membuat rongga di tengah-tengah
wortel, kadang-kadang kami memanggil tukang kayu untuk membuat rongga.” jelas
pemilik kedai sambil tertawa. Kakek dan nenek berusia 60 tahunan. Mereka
bersemangat sekali menjelaskannya. Kufoto dengan berbagai gaya wortel yang siap
dimasak itu.

Rongga wortel tadi diisi dengan
campuran beras, tomat, minyak zaitun, kayu manis, dan kenari hancur
kadang-kadang ditambah daging. Kemudian diguyur dengan saus asam manis khas
negeri Palestina. Rasa manisnya dari wortel sedangkan asamnya dari pasta asam
yang khusus di impor dari Persia, yang disebut Hindi Tamar. Mengingat rasa
makanan tadi, terbit lagi air liurku. Slruupp…

Subhanallahu, mereka begitu bahagia
mengenal kami. Wartawan adalah segalanya bagi mereka. Mereka tidak bisa
mengabarkan pada dunia apa yang terjadi di sana. Mereka tergantung pada wartawan.
  
“InsyaAllah akan saya kabarkan
semua yang terjadi di sini ya, Kek,” begitu janjiku pada Kakek
Ahmad, pemilik kedai itu.
  
Kami, tim wartawan dari beberapa
media besar di tanah air, ditugaskan meliput Gaza dan
sekitarnya. Hanya ada 2 orang wanita saja dalam ekspedisi ini, aku dan mbak
Adis. Yang lainnya pak Arif, pak Syarif dan pak Sandi.
  
Kami melewati blokade yang sangat
ketat sekali, sampai tempat yang akan diliput pun akhirnya berubah. Khan Yunis
adalah kota kecil yang sedikit longgar, akhirnya kami terdampar di kota ini.
Tidak banyak yang bisa diliput disini. Tapi itu pandanganku saat pertama kali
datang ke sini dan aku salah!

Kami meneruskan perjalanan menuju masjid
yang tidak jauh dari tempat itu. Waktu menunjukan saatnya shalat Zuhur sudah tiba.
Di tengah perjalanan…, brukkk!! Aku tertabrak sepeda. Badanku
oleng ke kiri. Kulihat mbak Adis pun terkejut. Seorang anak berusia 10 tahun
terjungkal dan jatuh dari sepedanya.

“Tidak apa-apa, Dik?” kubantu
dia berdiri
dan kupandangi wajahnya yang putih pucat. Wajahnya tirus, matanya sayu.
Sepertinya aku mengenal anak ini.
  
Beberapa waktu yang lalu, ketika
kami baru sampai di Khan Yunis, kami sarapan di sebuah kedai tidak jauh dari
hotel. Dia mengirim roti pada pemilik kedai itu. Roti yang masih hangat dan enak
sekali. Aku pun langsung memesannya dan membawa beberapa buah untuk bekal
perjalanan keliling kami. Ya, tidak salah lagi, pasti dia gadis penjual roti
itu!
  
“Oh, eh, maaf Kakak.
Aku tidak sengaja.” Katanya dalam bahasa Inggris yang terbata-bata. Dia usap
kedua kakinya sambil meringis perih.
  
“Tidak apa-apa, kami yang salah,
jalan terlalu ke tengah dan sambil memotret lagi,” Mbak Adis
menenangkannya.
  
“Ayo, dimana tempat tinggalmu? Kami
antar sampai rumah ya?” Mbak Adis memang jempolan, dia cepat
tanggap jika ada musibah. Sekecil apapun.
  
“Ya, Kak,”
lirihnya
setengah bergumam.

Akhirnya rombongan kami berpisah,
bapak-bapak meneruskan ke masjid dan kami mengantarkan gadis kecil itu ke
rumahnya. Kami berjalan beriringan. Kutuntun sepeda dan Mbak Adis memapah gadis
kecil itu.

Lho kok, dia menuju ke kedai
yang tadi?

Olala, ternyata gadis itu anak
angkat pemilik kedai. Subhanallahu,
ada keajaiban kembali hadir dalam perjalanan kami. Dan itu baru permulaan,
selanjutnya masih banyak kejutan-kejutan indah dari Allah lewat gadis kecil bermata sayu,
Hayya.

***

“Anak itu kami temukan ketika kami
berkunjung ke rumah adik kami di Gaza. Dia duduk sambil menangis di depan rumah
adik saya yang kebetulan tidak kena serangan dari Israel karena letaknya
dipinggiran kota.” Kakek Ahmad, begitu aku menyebutnya, pemilik kedai itu
memulai ceritanya.
  
“Usianya 8 tahun ketika kami
ketemukan, bajunya lusuh dan kondisi badannya lemah,”
imbuhnya
lagi. “Mungkin dia melakukan perjalanan yang jauh dari rumahnya karena daerah
tempatnya tinggal luluh lantak di bombardir tentara jahanam itu.” katanya lagi
dengan muram.
  
“Dia sudah tidak punya siapa-siapa,
keluarganya meninggal semua dalam kejadian itu.“ Kakek Ahmad memandangiku
dengan wajah sedih, ada air di sudut-sudut matanya. Kulihat dia menggenggam
erat tangan istrinya. Aku paham sekali kesedihan mereka.
  
Wajah tuanya, meskipun sudah keriput,
tetapi terlihat jelas bahwa pada masa mudanya adalah seorang laki-laki yang
gagah dan rupawan. Wajahnya teduh menandakan dia ahli ibadah. Dia duduk bersama
istrinya bercerita tentang gadis kecil itu. Gadis malang itu, Hayya namanya,
yang artinya hidup.
  
Hayya membantu mereka menjual roti
yang diambil dari industri rumahan tetangga mereka. Upahnya lumayan dan menjadi tabungan
untuknya. Kakek dan Nenek Hayya tidak memerlukan uang itu. Hayya membantu
menjual roti sekaligus belajar membuat roti karena Hayya tidak bisa bersekolah
formal lagi.

Kakek dan nenek itu hanya tinggal
berdua saja di rumah yang kini disulap menjadi kedai. Mereka sudah tidak punya
siapa-siapa lagi. Ketiga anak laki-lakinya syahid berjuang  mempertahankan tanah airnya, Palestina.

Hayya, kini menjadi anak angkat
mereka. Mereka sangat bersyukur Hayya mau tinggal bersama mereka. Walaupun
hidup dalam kesusahan dan kesedihan, Hayya mampu melipur lara mereka.

***
 Kudekati gadis itu, Hayya tertunduk
malu. Dia habiskan makan siangnya dengan cepat begitu melihatku menghampirinya.

“Hayya, apa kabar?” sapaku
hati-hati. Entah mengapa aku ingin sekali dekat dengan anak itu.

“Baik, alhamdulillah,”
jawabnya singkat, kemudian bangkit membawa serta piring dan gelas menuju ke
tempat cuci piring dan asyik mencucinya. Kedai itu ada di dalam ruang tamu yang
sudah disulap menjadi tempat makan. Tempat cuci piring pun disediakan di sana.
Dapurnya pindah kedepan.

Kuedarkan pandangan ke seluruh
ruangan. Rumah sederhana dengan karpet tebal yang hangat. Kursi-kursi dan meja
diberi taplak rajutan.
“Pasti hasil karya
Nenek Maryam,batinku,
sok tahu.

Mataku tertumbuk pada jejeran foto
yang ada di buffet kecil dipojok ruangan. Ehm, baru kulihat pemandangan
ini.  Kuhampiri jejeran foto itu dan
kulihat 3 orang laki-laki muda tersenyum  riang di dalamnya.

“Itu foto 3 mujahid kami.” Tiba-tiba
Nenek Maryam sudah ada di sampingku. “Mereka semua gagah berani, sampai aku
tidak sampai hati menolak permintaan mereka untuk berjuang bersama batalion
Asy-Syahid Izzuddin Al-Qassam,” imbuhnya. Diambilnya foto itu dan
diusapnya. Dipandanginya foto itu dengan pandangan penuh mesra.

“Kami memang kehilangan mereka,
tetapi kami yakin mereka tidak mati, karena Allah telah mengatakannya dalam
kitab suci Al Qur’an.” Disusutnya airmata yang meleleh di kedua pipinya yang
keriput.

Kupeluk dia dengan penuh haru. Tak
terasa mataku pun memanas. Aku tahu perihnya kehilangan orang-orang yang
dicintai. Kami tenggelam dalam haru biru di pojok ruangan penuh kenangan. Lewat sudut
mataku, kulihat
Hayya pun sedang tersedu melihat kami menangis berpelukan.

***

“Kakak, maafkan aku ya.” Hayya
tiba-tiba sudah duduk di sampingku. Aku sedang
menikmati sarapan pagi tanpa Mbak Adis, dia sedang memburu berita di tempat
lain. Sementara, aku betah sekali nongkrong di kedainya Kakek Ahmad, sarapan
paginya hari ini roti dengan oseng jamur. Sedappp!

“Hai Hayya, sudah sarapan belum?”
kuberi dia senyuman paling indah di pagi itu. Kuajak dia duduk di sampingku.

“Sudah, Kak,”
jawabnya dengan senyum ceria. Surprise…!!!
Aku kaget sekali melihat perubahannya. Kuteruskan sarapanku dengan senyum
mengembang, aku bahagia sekali. Selesai juga sarapanku, kubawa ke tempat cuci
dan segera aku cuci piring itu.

“Hayya tidak mengantar roti? “
tanyaku.

“Tidak Kak, Hayya hanya ingin
bermain dengan Kakak,” jawabnya sambil menunduk. “Kata
kakek Ahmad, Kakak besok kembali ke Indonesia ya?” dia pandangi aku dengan
pandangan penasaran, seperti meminta jawabanku segera.

“Ehm, di sini ada tempat yang aman
untuk bermain tidak? “ tanyaku mengalihkan pertanyaan.

“Ada. Yuk kita ke sana, Kak!” Hayya
serta merta menarikku keluar rumah. 
“Kakek, Nenek, aku main dulu yah. Assalamu’alaikum!
” serunya sambil meminta ijin pada kakek dan neneknya.
Digamitnya tanganku dengan riang.

Kami berjalan memutari belakang
rumah Kakek Ahmad. Kami susuri jalan setapak di antara jejeran rumah yang
padat. Di ujung jalan itu ternyata ada kebun jeruk yang rindang. Puluhan pohon
berjajar dengan buah jeruk menguning siap di panen. Indahnya, aku tidak pernah
jalan lewat jalan setapak itu. Kebun ini seperti surga. Hamparan hijau
pepohonan jeruk dengan warna kuning semu oranye yang indah.

“Ini kebunnya kakek
Ahmad, yang mengurus semua warga di sini. Hasil kebun kami panen bersama.
Setelah serangan dari Israel, kami harus berbagi untuk sesama. Tidak ada lagi
hak milik pribadi, semua untuk keperluan bersama. Begitu kata Kakek
Ahmad.” Hayya panjang lebar menjelaskannya sebelum aku bertanya.
  
“Ooh…,” aku mengangguk sambil
potret sana, potret sini. Kami duduk berjejer di bawah pohon jeruk. Hayya
mengambilkan beberapa biji jeruk untukku.
  
“Ehmm…manissss.” Aku lahap semua
buah jeruk seperti orang baru bertemu buah jeruk. Rasanya memang luar biasa. Beda
dengan jeruk yang biasa aku makan sebelumnya. Selesai makan jeruk, kami bermain
dan berlari-lari berdua bak kakak beradik. Hayya kelihatan senang sekali. Ia
tergelak-gelak ceria. Lelah berlarian, kami berjejeran tidur di hamparan rumput
yang hijau. Wangi rumput seketika menyeruak hidungku.

“Kakak, mau menjadi kakakku tidak?”
tiba-tiba Hayya melontarkan pertanyaan itu. Alisku berkerut.

“Tentu saja mau, Sayang!”
jawabku sambil memeluknya. Dia begitu ringkih dan polos.

“Kakak, setelah aku ditinggal kedua
orangtuaku dan adik-adikku, milikku hanya kakek dan nenek.
Jika mereka meninggal siapa yang akan menjadi temanku?” katanya lagi, polos.
Ada riak air di matanya dan luruh satu-satu di pipinya
yang tirus pucat.

Ya, Rabbi, pertanyaan yang menohok
sekali. Kupandangi wajah polosnya. Kuusap dengan lembut airmata yang membasahi
pipinya.

“Iya Sayang, pasti  Kakak akan menjagamu, insyaAllah. Kakak janji!”
Tenggorokanku mendadak kering, suaraku parau. Aku menangis. Aku sedih harus
berpisah dengannya.

“Berdoa pada Allah ya, agar Allah
mempertemukan kita lagi. Kakak akan terus mengirimimu surat, akan kakak
kabarkan pada dunia, bahwa ada adik kakak di bumi Palestina
yang bernama Hayya. Gadis kecil penjual roti yang hebat, Sholihah.
“ kataku lagi.

Gadis kecil itu menangis dalam
pelukanku. Rasanya enggan melepaskannya dalam kesedihan, sendiri. Betapa
beratnya menjadi Hayya, sepulang sekolah, dia mendapati rumahnya sudah porak
poranda, dengan ayah dan bunda
ditemukan telah tak bernyawa. Begitu juga dengan adik-adiknya. Sungguh
peristiwa yang tragis.

“Kakak, mengapa mereka (orang Israel)  membenci kami (bangsa Palestina)? Mengapa
mereka membunuh Ayah Bunda dan Adik-adikku? Mengapa mereka menghancurkan
rumah-rumah kami? Sekolah kami? Kebun kami? Mainan kami?” Hayya menangis dalam
pelukanku.

Entahlah, aku pun tidak tahu
jawaban pastinya. Kebencian dan keserakahan itu datang membabi buta, sehingga
sudah tidak ada lagi hati nurani di dalamnya.

Kupandangi mata Hayya. Anak
Palestina yang telah kehilangan segala-galanya. Ayah bundanya,
keluarganya, masa kecilnya, kebebasannya. Ada ketakutan
dan keperihan diselipan cita-cita yang tinggi untuk kemerdekaan negerinya. Ya
Allah, apakah aku sanggup menjadi dirinya?

Hayya sayang, semoga engkau dan
saudara-saudaramu segera menghirup udara bebas dari penjajahan kaum zionis
Israel laknatullah. Benderamu akan berkibar di langit kebebasan. Dan
mimpimu bersekolah hingga ke luar negeri akan segera terwujud. Semoga.

Angin gemerisik menyentuh
dedaunan pohon jeruk, suaranya syahdu menjadi saksi dua
orang yang saling berjanji menjadi kakak dan adik sampai ajal menanti.
***
Hari ini aku harus bersiap
meninggalkan hotel kembali ke tanah air. Separuh hatiku
telah tertanam disini, di negeri para nabi. Ya Allah, semoga aku bisa
menjejakkan kakiku kembali di sini dan mengajak Hayya mengenalkan
negeriku, Indonesia.#

*JB, Malaysia, 19 September 2011*
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Alhamdulillah, akhirnya, kita selesai membahas materi berikut cerpen keren bu TUti. Kesimpulan yang saya dapat dari komen kawan2 semua adalah berikut:
1. Cerpen 'Hayya' adalah cerpen yang manis. Sesuai dengan tema bahasan hari ini, bu Tuti berhasil menghadirkan setting yang kuat hingga kita terbawa pada suasana di cerita.
2. Cerpen ini juga seperti kisah nyata karena bu Tuti melakukan survey sebelum menulis kisahnya. Nah, inilah gunanya survey. Cerpen kita akan memiliki kekuatan lain, yaitu pengetahuan baru untuk pembaca.
3. Unsur instriksik pembangun cerpen juga sudah terlihat.
a. Alur jelas.
b. Tema, bagus.
c. Karakter tokoh, ditampakkan dalam cerpen. Menurut pandangan saya, Hayya adalah simbol kekuatan terpendam. Kakek dan nenek Ahmad adalah simbol kebaikan dan kesabaran. dan aku, tokoh utama di sini, adalah seseorang yang hangat dan mudah berbagi. Benarkah demikian bu Tuti? :-)

Ok, selamat pada bu Tuti yang sudah berhasil membuat cerpen keren yaa... ditunggu kiriman tulisan fiksi dari seluruh sahabatku di IIDN LN. Yuk, kian semangat belajar!

Akhir kata, mohon maaf atas segala kekacauan waktu dan kekurangan di sana sini. Kita tutup kelas fiksi kali ini dengan bacaan hamdallah.

Alhamdulillahi robbil 'alamiin.
salam hangat dari Johor, :-)
Ary Nur Azizah

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuhu, :-)